Nama   : Tya Wulandari

NRP    : A24100141

Laskar 1

Semangat Itu Kembali Datang

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika saya berusia sepuluh tahun, sebuah kejadian telah memberikan suatu hikmah dan berbagai pelajaran pada diri ini. Tak kan pernah terlupakan kejadian itu sampai saat ini. Kejadian yang terus terbayang hingga saat ini, kejadian yang saya alami ketika diri ini belum tahu apa yang sebaiknya saya lakukan pada saat itu. Kisah ini berawal ketika kakak ke dua saya, Yudhi Ismail bermalas-malasan untuk menyelesaikan kuliahnya. Terhitung sudah empat tahun ia menuntut ilmu di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta.

Kekecewaan pun datang dari pihak keluarga, terutama dari bapak. Amarah bapak pun memuncak ketika kakak beranjak berangkat ke kampusnya. Secara tegas bapak menasihati kakak, beliau memberikan pilihan. Kakak begitu terpukul dengan kejadian ini. Setelah diberikan waktu selama 24 jam, akhirnya kakak memutuskan untuk segera menuntaskan kuliahnya dalam jangka waktu yang diberikan oleh bapak. Kakak merasakan kesedihan yang teramat dalam apabila ia harus memilih untuk hidup mandiri dan meninggalkan rumah sampai ia menuntaskan kuliahnya. Sebagai seorang adik yang masih teramat kecil dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan saat itu, saya hanya bisa menangis layaknya anak kecil yang merasa akan ditinggalkan oleh kakak tersayangnya.

Semenjak kejadian itu, sikap kakak berubah dan semangatnya begitu meluap-luap untuk menuntaskan kuliahnya. Sampai suatu hari ia pun diwisuda dan berhasil menuntaskan Program S1-nya dengan nilai IPK yang cukup memuaskan. Ternyata, tanpa ada salah seorang anggota keluarga pun yang tahu, setelah meraih gelar sarjananya, kakak kembali melanjutkan program Pascasarjana. Ia membiayai kuliahnya dengan uang sendiri, uang tabungan dan gaji yang diterimanya setiap bulan. Selama menjalani program Pascasarjananya, saya pun tidak mengetahui rencana kakak tersebut. Suatu hari, kakak datang dengan memberikan undangan untuk orangtua para wisudawan. Bapak dan ibu pun terkejut dan terharu, mereka begitu bangga.

Kisah ini begitu terus melekat pada ingatan saya. Kisah yang memberikan berbagai pelajaran hidup. Pahit getirnya kehidupan pasti akan dilalui oleh setiap orang. Dalam situasi apa pun kita harus berusaha untuk bersikap lebih dewasa karena setiap masalah yang kita hadapi pasti memberikan hikmah yang sangat kita butuhkan untuk terus melanjutkan kehidupan ini. Cerita ini memberikan banyak inspirasi kepada saya. Sebagai seorang adik, saya harus bisa meneladani sikap kakak yang terus bersemangat dan tidak mudah putus asa dalam meraih segala cita-citanya. Cerita ini bukan sekali saja saya tulis melainkan, yang ke tiga kalinya. Cerita inspiratif ini membuat diri saya lebih yakin dengan pepatah yang mengatakan : Nothing is impossible, so, all we can think we can do that !

Nama   : Tya Wulandari

NRP    : A24100141

Laskar 1

Guruku Inspirasiku

Rasanya, baru saja kemarin saya menuntut ilmu di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA N) daerah Cijantung, Jakarta Timur. Banyak kenangan dan pelajaran yang saya dapat di sekolah tercinta ini. Salah satunya adalah keteladanan yang dapat saya ambil dari seorang guru favorit di sekolah ini. Yaa, Beliau adalah salah seorang guru Fisika terbaik yang dimiliki oleh sekolah kami. Beliau bernama, Drs. Untung Sucahyo. Guru Fisika yang akrab dengan sapaan Pak Untung ini bukan hanya menjadi pengajar melainkan, Beliau adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Perjalanan kehidupan Beliau pun berliku-liku dan penuh tantangan dan hambatan tetapi, semua itu yang membuatnya menjadi sosok berwibawa seperti sekarang ini.

Pertama kali mengenalnya, saat berada di kelas XI IPA-7. Beliau hanya mengajar di kelas kami. Beruntunglah kami dapat mengenalnya. Di awal pertemuan, Beliau begitu dihormati oleh teman-teman. Hal ini karena sikap disiplin yang diterapkan oleh Pak Untung di kelas. Saat itu, setipa kali pelajaran Fisika akan berlangsung, keadaan kelas menjadi berubah seketika. Bayangkan saja, semua siswa harus berpakaian rapi, tempat duduk pun mengikuti aturan yang Beliau terapkan (duduk per kelompok), semua harus terlihat rapi. Kebiasaan-kebiasaan itu kami jalani sampai Semester 1 berakhir. Ternyata, semua materi yang Beliau ajarkan dapat kami serap dengan baik, setidaknya pelajaran Fisika yang menjadi boomerang sejak kelas X, tidak lagi kami anggap sebagai sesuatu yang begitu menyeramkan dan menegangkan. Pembelajaran di Semester 2 pun kembali berjalan. Ada hal baru yang timbul di kelas, terutama ketika pelajaran Fisika berlangsung. Pak Untung yang begitu serius di Semester 1 begitu berubah 180 derajat dengan sosoknya di Semester 2. Beliau begitu ramah, keadaan kelas menjadi begitu hangat, penuh canda-tawa, dan kelas Fisika menjadi salah satu kelas  yang dinantikan oleh teman-teman. Dengan sosok kebapakannya, ketegasan, kedisiplinan yang masih terus diterapkannya, menjadikan Pak Untung menjadi salah satu Guru Fisika favorit kami. Cara mengajar beliau begitu berbeda dengan guru lain. Materi yang disajikan begitu terstruktur tetapi, tidak menjenuhkan. Catatan Fisika kami pun terisi penuh dan catatan-catatan yang kami miliki menjadikan kami tidak menjadikan buku Fisika saja yang menuntun kami. Bahkan, mayoritasnya, ketika ada PR atau ujian, kami cukup membaca catatan dari Beliau. Pak Untung pun memberikan cara menyelesaikan tugas Fisika dengan cara yang mudah. Beliau selalu mengingatkan kami bahwa “Setiap soal Fisika yang kami selesaikan harus benar-benar kami pahami bukan hanya kami tahu saja jawabannya.” Beliau pun menjadi tim Pembina OSN Kebumian, alhamdulillah saya dan beberapa teman dari bidang pelajaran yang berbeda bisa menyelesaikan sampai Tingkat Provinsi. Beberapa teman bisa melanjutkan sampai Tingkat Nasional, bahkan mendapatkan medali emas dan perak.

Saya sangat mengagumi sosok Pak Untung. Beliau juga terus mengingatkan untuk tepat dalam melaksanakan ibadah-ibadah, baik ibadah wajib ataupun ibadah sunah lainnya. Beliau begitu menginspirasi saya, untuk menjadi seseorang yang bisa bemanfaaat bagi orang lain, bukan hanya dalam hal duniawi saja tetapi mengajak orang untuk memikirkan kehidupan akhirat kelak. Baginya, ilmu-ilmu yang dimiliki harus terus diamalkan karena ilmu adalah salah satu amalan jariyyah yang tidak akan pernah putus kebaikannya walaupun kita sudah tiada. Semoga kelak diri ini bisa menerapkan semua hal-hal positif yang bisa diteladani dari sosok guru teladan ini. Aamiin